Sungguh Memalukan, Pendukung Anies-Sandi Mengusir Haji Djarot Dari Masjid Usai Salat Jumat, Padahal Sesama Umat Muslim

Sungguh Memalukan, Pendukung Anies-Sandi Mengusir Haji Djarot Dari Masjid Usai Salat Jumat, Padahal Sesama Umat Muslim
Pengusiran Djarot Oleh Pendukung Anies-Sandi
Suara Rakyat, Jakarta - Baru saja saya melihat video pengusiran Djarot dari masjid jami al-atiq di Tebet, Jakarta Selatan. Beberapa media juga sudah memberitakannya. Beberapa penulis Seword sudah menanggapi. Dan saya juga sangat terdorong untuk menanggapi sikap-sikap jahiliyah tersebut.

Penolakan ummat muslim Jakarta terhadap Djarot sebenarnya sudah pernah terjadi pada saat acara haul Soeharto di masjid at tin. Dan itu artinya pengusiran Djarot dari masjid al-atiq merupakan kejadian yang kedua. Kejadian sangat memprihatinkan yang menunjukkan betapa hanya untuk urusan politik, ada orang-orang yang menyalah gunakan masjid.

Menurut saya, akar masalah dari pengusiran dan sikap-sikap biadab ini sebenarnya karena doktrin negatif dan kebencian terhadap orang-orang yang berbeda pilihan politik sudah terlanjur tertanam.

“Mereka yang memilih pemimpin seorang nasrani atau yahudi itu orang munafik. Bila kita memilih orang non muslim sementara ada orang muslim sebagai pilihan, itulah kita dicap jadi seorang munafik,” ujar seorang jamaah yang menggunakan mikrophone.

Pidato atau khutbah jumat sejenis itu sudah ada sejak Ahok resmi dinyatakan maju sebagai Calon Gubernur. Selama berbulan-bulan terus diulang setiap jumatan, dan kalau sekarang terjadi penolakan atas nama kebencian kepada lawan politik, itu hanyalah buahnya, atau konsekuensi logis dari khutbah jumat penuh kebencian yang sudah diserukan selama berbulan-bulan lamanya.

Yang menarik di sini adalah, khutbah jumat yang merupakan seruan-seruan pergerakan tersebut sangat sesuai dengan materi ceramah Eep Saifullah Fatah yang merupakan timses Anies Sandi. Eep pernah bercerita di Aljazair, partai FIS berhasil menang karena di setiap khutbah atau ceramah selalu diselipkan kalimat seruan.

“Jadi semua ulama, khatib yang mengisi ceramah-ceramah di masjid, termasuk dan terutama shalat jumat, bukan hanya menyerukan ketaqwaan, tapi dilanjutkan dengan seruan-seruan politik. Tetapi bukan seruan partisan. Kalau seruan partisan itu gini, pilih si A jangan pilih si B. Itu partisan. Bukan seruan itu yang disuarakan.

Jadi setelah khotib mengatkan ittaqullah…ittaqullah…ittaqullaha haqqa tuqatihi dan seterusnya, khotib menyampaikan: hai kalian ummat Islam, kalian punya hak. Tidak ada orang lain yang akan menjaga dan menegakkan hak itu kecuali kalian sendiri. Kalian tidak bekerja, hanya menunggu, maka hak itu tidak akan tegak. Jemput dan rebut hak itu. Bertumpu pada diri sendiri jangan bertumpu pada orang lain siapapun dia. Kecuali para pemimpin yang kalian percaya. Kalau ada pihak yang mencederai hak itu, maka lawan dengan sebagaimana Islam mengajarkan.

Terus menerus disampaikan, ketika hari pencoblosan ternyata melekat. Dan tanpa uang, tanpa jaringan yang kuat, FIS bisa memenangkan,” itu kata Eep Saifullah Fatah yang merupakan konsultan serta timses Anies Sandi.

Dan kenyataan yang kita lihat selama beberapa bulan terakhir di masjid-masjid Jakarta, para khotibnya menyerukan suara-suara politik “larangan memilih pemimpin kafir.” Persis seperti ceramah Eep. Para khotib itu tidak sedikitpun menyerukan suara partisan pilih Anies dan jangan pilih Ahok, tidak. Mereka begitu terstruktur, sistematis dan massif menyerukan suara politik dalam khutbah-khutbahnya.

Jadi kalau ada yang bertanya siapa biang kerok dari khutbah-khutbah politik selama beberapa bulan terakhir, maka yang paling pantas untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah Anies Baswedan, Sandiaga Uno, Prabowo dan tim suksesnya: Eep Saifullah Fatah. Karena tentu bukan sebuah kebetulan kalau apa yang terjadi di masjid-masjid Jakarta, begitu sejalan dengan materi ceramah Eep. Bahwa kemudian tim Anies mengatakan ceramah itu ada jauh sebelum pasangan resmi terbentuk, itu bukan sebuah bantahan, melainkan sebuah konfirmasi bahwa apa Eep sudah mengatakannya lebih dulu sebelum adanya khutbah politik.

Inilah akar seruan politik dalam khutbah jumat yang begitu sejalan dengan analisis kemenangan FIS di Aljazair, yang disampaikan oleh timses Anies Sandi.

Sungguh Memalukan, Pendukung Anies-Sandi Mengusir Haji Djarot Dari Masjid Usai Salat Jumat, Padahal Sesama Umat Muslim
Djarot Saiful Hidayat
Bahkan Iblis Sekalipun tak pernah mengusir muslim dari masjid

Dalam analisis sederhana saya, pengusiran terhadap Djarot dari masjid, merupakan buah dari ditanamnya seruan politik dalam khutbah jumat selama berbulan-bulan. Anda para pembaca boleh berbeda pendapat dan membantahnya, hanya jika mampu memberikan bukti lebih akurat dari tulisan saya. Jika tidak, maka terima saja ini sebagai kenyataan tak terbantahkan.

Pengusiran seorang Djarot, muslim taat dan sudah melengkapi rukun Islamnya dengan menunaikan ibadah haji, merupakan sebuah peristiwa sejarah yang begitu penting bagi peradaban manusia.

Setau dan seingat saya, belum pernah ada kelompok orang yang berani mengusir seorang haji dari masjid. Bahkan iblis pun tidak mampu mengusir seorang muslim dari masjid. Jika ini salah, silahkan dikoreksi dalam kolom komentar.

Seorang iblis dan syetan, yang memang mendapat tugas atau ditugaskan oleh Tuhan untuk mengganggu manusia, tidak pernah bisa mengusir seorang muslim dari dalam masjid dengan cara menakut-nakuti atau menunjukkan wujudnya. Tidak pernah. Iblis dan syetan hanya berani mengganggu, bukan mengusir secara lantang. Sebab masjid adalah rumah Tuhan. Tidak ada iblis atau syetan yang berani macam-macam dengan bertindak berlebihan.

Tapi menariknya, di Jakarta, kelompok pendukung Anies mengacungkan salam oke oce, sambil berteriak lantang Allahuakbar mereka mengusir seorang Haji Djarot dari masjid. Luar biasa. Ini artinya para pendukung Anies ini mampu melakukan sesuatu yang tidak pernah mampu dilakukan oleh iblis atau syetan.

Dan sekali lagi, jika ada yang bertanya mengapa pendukung Anies bersikap seperti itu, saya meyakini dan menyimpulkan bahwa itu semua karena seruan politik yang sudah diulang-ulang selama berbulan-bulan terkait larangan memilih pemimpin nonmuslim.

Jika ada yang bertanya mengapa seruan memilih pemimpin muslim hanya ada di Jakarta? Menurut saya karena Eep hanya menjadi timses Anies Sandi di Pilgub DKI, bukan Pilkada daerah lain.

Tapi kalau ada yang bertanya siapa yang paling bertanggung jawab atas moral dan sikap-sikap iblis yang ditunjukkan oleh pendukung Anies? Saya kurang bisa menjawab dengan pasti. Sebab melibatkan banyak pihak. Dari mulai konsultan seperti Eep, khatib jumat, takmir masjid, sampai orang-orang bodoh yang buta agama.

Terakhir, bagaimanapun ini sudah terjadi. Bahwa Anies Sandi membantah mereka tidak terlibat dengan kampanye negatif seperti itu, menurut saya hanyalah omong kosong belaka. Ilmu seruan politik dalam khutbah jumat, serta kelompok orang yang berteriak allahuakbar setiap menitnya, keduanya merupakan elemen tak terpisahkan dari tim sukses Anies Sandi.

Dan saya melihat ini merupakan kejadian yang sangat luar biasa. Sebab untuk pertama kalinya dalam sejarah peradaban manusia, ada sekolompok orang yang hanya karena urusan politik, mampu dan berani bertindak jauh lebih dari yang mampu dilakukan oleh iblis dan syetan.

Berikut ini video pengusiran Djarot oleh para pendukung Anies-Sandi Sungguh perbuatan yang sangat memalukan umat muslim di Indonesia



Sumber : https://seword.com/politik/keren-pendukung-anies-usir-haji-djarot-dari-masjid-padahal-iblis-saja-tak-berani/


Baca Juga :





Dibalik Rencana Reklamasi Teluk Jakarta Oleh Ahok, Yang Ternyata Tidak Meng Anak Tirikan Para Nelayan

Dibalik Rencana Reklamasi Teluk Jakarta Oleh Ahok Yang Ternyata Tidak Meng Anak Tirikan Para Nelayan
Ahok - Djarot

Suara Rakyat, Jakarta - Calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengaku, dirinya sama sekali tidak pernah menyudutkan profesi nelayan, sekalipun tetap melanjutkan program 17 Pulau Reklamasi di teluk Jakarta.

Ahok sapaan Basuki mengatakan, telah menyiapkan desain hunian bagi nelayan nantinya akan direlokasi. Namun, rencana tersebut baru dapat terealisasi saat tanggul utara setinggi 3,8 meter selesai di bangun. Tanggul itu nantinya berfungsi untuk mencegah banjir rob.

"Justru nelayan sudah kita bilangin, tanggul begitu jadi, tanggul 3,8 meter semua nelayan kapal sandar di depan tanggul. Lalu di balik tanggul kita sengaja lebihin tanah kaya Muara baru kita lebihin tanah 10 hektare itu semua komplek rusunnya nelayan," kata Ahok usai debat di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Rabu (12/4/2017).

Menurutnya, desain pembangunan rumah susun untuk nelayan telah dilakukan Pemprov DKI Jakarta. Nantinya ada beberapa fasilitas akan diberikan untuk mempermudah nelayan usai melaut. Bahkan nantinya bakal diberika tempat pendinginan ikan (cold storage).

Dirinya mengklaim, reklamasi 17 pulau memang ditujukan untuk memberikan keuntungan sebesar-besarnya bagi warga Jakarta. Karena nantinya setiap dibangun pengembang akan menyumbangkan pendapatan daerah.

"Seluruh pulau reklamasi hasilnya sertifikat atas nama Pemda DKI, beli tanah di Pulau reklamasi sertifikat, mereka kena 5 persen dari NJOP ke DKI lagi. Terus fasos fasumnya 48 persen, terus sisa yang bisa mereka jual 52 persen, 5 persen punya dki juga. terus tanah yang bisa mereka jual harus dikenakan 15 persen dari NJOP. Untung banget kita," kata Ahok.

Sumber : http://www.tribunnews.com/metropolitan/2017/04/13/lanjutkan-reklamasi-ahok-janji-tak-anak-tirikan-nelayan

Baca Juga :

Inilah Pertanyaan Seorang Bocah Yang Bikin Jokowi Geleng Geleng Kepala

Inilah Pertanyaan Seorang Bocah Yang Bikin Jokowi Geleng Geleng Kepala
Presiden RI Joko Widodo

Suara Rakyat, Jakarta - Presiden Jokowi merilis vlog terbarunya di Youtube.

Vlog ini diposting pada 7 April 2017, kemarin.

Vlog ini dinamai #JokowiMenjawab.

Postingan video di akun Presiden Joko Widodo itu diberi keterangan ini.

#JokowiMenjawab merupakan program khusus di laman Facebook Presiden Joko Widodo kepada netizens untuk mengajukan pertanyaan langsung kepada Presiden.

Dalam edisi pertama #JokowiMenjawab, kesempatan bertanya diberikan kepada anak muda berusia 13-20 tahun untuk mengajukan pertanyaan atau aspirasi mereka dalam bentuk video YouTube sepanjang maksimal 30 detik.

Ini adalah episode kedua, dengan tema Kepemimpinan.

Netizen yang beruntung mendapat kesepatan bertanya di antaranya, Nur Hikmah Tahir.

Gadis ini baru berusia 15 tahun.

Nur Hikmah mengatakan, banyak orang yang pintar tetapi memiliki sifat kurang baik.

"Tetapi ada juga orang yang baik tetapi kurang dalam berprestasi."

"Menurut Bapak, lebih baik mana menjadi orang baik, atau menjadi orang pintar?"

Lalu, Presiden Jokowi pun menjawab pertanyaan Nur Hikmah asal Bone, Sulawesi Selatan.

"Pertanyaanya kok meyulitkan gitu, pilih orang baik atau pintar?"

Jawaban presiden cukup mengejutkan!

Presiden menjawab lebih baik pilih ke dua-duanya.

"Orangnya pinter dan juga baik," kata Jokowi.

"Jadi percuma kalau pintar tapi perilakunya jelek."

"Misalnya kita jelekkan orang lain, mencela orang lain, menghujat orang lain."

"Kalau saya ya pengennya anak-anak kita pinter dan punya karakter dan kepribadian yang baik," kata dia.

Selain Nur Hikmah, seorang remaja perempuan bernama Adelia Putri juga bertanya tentang Indonesia kepada Jokowi.

"Indonesia itu, pertama besar, kedua berbudaya, dan ketiga kaya," ujar Jokowi.

Dikatakan besar, kata Jokowi, karena Indonesia memiliki penduduk 250 juta jiwa dan 17 ribu pulau.

Kemudian, dapat dikatakan berbudaya karena masyarakat Indonesia terkenal kesantunannya, keramahan, dan budaya leluhur.

Sementara, Indonesia juga dikatakan kaya karena memiliki tambang batu bara, nikel, emas, hutan, dan laut yang luas.

"Tetapi kalau tidak dikelola dengan baik bisa mendatangkan bencana."

"Kita harus kelola dengan baik supaya bermanfaat," tandas Jokowi.

Dalam episode kedua ini, ada pernyataan seorang anak yang menggelitik.
"Siapa yang jadi Hokage ke delapan di dalam animo Naruto?" tanya Yadian.

Jokowi pun kesulitan menjawab pertanyaan Yadian.

"Saya harus ngomong apa adanya ya, saya nggak tahu itu Hokage ke delapan, Naruto itu saya nggak ngerti."

"Jadi tolong buatin video lagi, jelasin ke saya Hokage itu apa?"

"Naruto itu siapa?"

"Nanti kalau saya jawab keliru malah… saya kan nggak tahu," ujar Jokowi sambil tertawa.
Berikut Videonya:


Sumber : http://www.tribunnews.com/nasional/2017/04/09/alamak-bocah-ini-ajukan-pertanyaan-yang-bikin-jokowi-geleng-geleng-kepala





Kapolda : Kasus chat Rizieg - Firza Mirip Kasus Ariel dan Luna Maya


Jakarta - Polisi masih mendalami chat mesum diduga dilakukan pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq dan Firza Husein. Sejumlah ahli juga disiapkan untuk mengungkap kasus itu.

"Itu tidak sulit. Hampir sama dengan kasus Luna Maya-Ariel. Ada ahli-ahli yang menangani secara scientific investigation kita siapkan. Hingga nanti tidak bisa dibantah," ujar Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol M. Iriawan di kawasan Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (5/2). Agen Bandarq

Iriawan menambahkan, polisi juga akan bekerja sama dengan provider dan beberapa saksi ahli untuk mengungkap kebenaran percakapan tersebut.

"Kita ke arah sana (kerjasama dengan provider), ahli antropometri sudah, fotografi proyeksi juga telah dilakukan untuk memastikan apakah yang bersangkutan yang ada di dalam chat yang beredar itu suara dari Firza," bebernya.

Lebih lanjut dia mengatakan, agar masyarakat bersabar dan memberikan kesempatan para ahli untuk bekerja mengungkap kebenaran hal itu. Situs Bandarq

"Ada lekuk-lekuk tubuh yang tak bisa dibantah, apa yan ada digambar itu pasti sesuai. Untuk itu mari tunggu tim sedang bekerja. Untuk memastikan itu saudari Firza Husein yang ada di video yang beredar atau bukan," tutur Iriawan.

Saat ditanya soal identiknya barang bukti yang dimiliki polisi dengan yang ada di foto wanita yang diduga Firza, Iriawan menyatakan bahwa bukti tersebut identik. "Ya, identik. Rumahnya identik," tandasnya. Bandarq Online

Sumber : https://www.merdeka.com

Paslon Meminta KPU agar Mengusut Penyebar Gambar E-Ktp Palsu


Jakarta - Calon wakil gubernur DKI Jakarta nomor urut dua, Djarot Syaiful Hidayat meminta, pemerintah tegas mengusut tuntas beredarnya Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP) palsu belakangan ini. Agen Bandarq

Penyebar gambar e-KTP palsu tersebut dinilai harus ditindak, agar tak membuat opini sesat di masyarakat. Terlebih jelang pemungutan suara Pilkada 2017, pada 15 Februari mendatang.

"Itu sudah saya tanyakan dan palsu. Inilah yang harusnya diusut siapa yang menyebarkan. Pemerintah harus tegas, negara harus tegas. Supaya tidak menimbulkan opini yang sesat," ujar Djarot, di Sawah Besar, Jakarta Pusat, Minggu, 5 Februari 2017. Situs Bandarq

Menurut Djarot, Kementerian Dalam Negeri dan Kepolisian serta Badan Pengawas Pemilu harus menuntaskan masalah tersebut. Tujuannya, agar antarmasyarakat tak lagi curiga adanya identitas pendukung fiktif guna memenangkan Pilkada. "Supaya antarwarga itu tidak saling mencurigai. Saya minta Bawaslu tegas, Kepolisian tegas, Kemendagri juga tegas. Karena yang mengeluarkan e-KTP itu Kemendagri. Kita kan cuma pelaksana saja. Blangko dari sana," ungkapnya.

Sebelumnya, masyarakat dihebohkan dengan adanya gambar di media sosial yang menampilkan tiga e-KTP dengan nama dan alamat yang berbeda, tetapi fotonya sama. Nama ketiga e-KTP yang berbeda-beda itu antara lain Mada, Saidi, dan Sukarno. Bandarq Online

Mada dan Sukarno sama-sama tinggal di Pademangan, Jakarta Utara. Sedangkan Saidi tertulis tinggal di Tomang, Jakarta Barat. NIK ketiga e-KTP itu juga terdaftar dalam DPT Pilkada DKI 2017. (mus)

Sumber : http://www.viva.co.id




Pengacara Ahok Kini Ancam SBY

Pengacara Ahok Kini Ancam SBY
Basuki Tjahaja Purnama

Suara Rakyat, Jakarta - Penjelasan Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, mengenai dugaan penyadapan terhadapnya, membuat pengacara Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Tommy Sihotang, merasa curiga. Karena itu, dalam sidang berikutnya, tim kuasa hukum Ahok akan meminta hakim untuk menghadirkan mantan Presiden Indonesia itu.

"Kami akan minta majelis hakim untuk memanggil beliau biar terang benderang karena kami ingin clear semua terkait penyadapan apa yang dimaksud. Harus hadir di sidang. Dia kan warga negara biasa juga," kata Tommy di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu 4 Februari 2017.

Menurutnya, di persidangan yang lalu, tim kuasa hukum Ahok tidak pernah menyebut bukti percakapan antara KH Maruf Amin dan SBY berupa rekaman atau transkip hasil penyadapan. Namun, SBY secara sepihak menyimpulkan adanya dugaan penyadapan itu.

"Yang bilang penyadapan ini kan adanya di luar sidang. SBY kan dia yang pertama bilang kalau ada penyadapan, dan itu bisa punya nilai bukti kalau diserahkan ke majelis hakim, makanya SBY harus dipanggil," kata Tommy.

Kalau tak mau hadir, Tommy melanjutkan, pihaknya akan menempuh jalur hukum dengan melaporkan ke kepolisian dengan dugaan fitnah dan pelanggaran atas penyebaran informasi. "Kita laporkan kalau tidak bersedia hadir," kata Tommy.

Menanggapi ancaman tersebut, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrat DKI Jakarta, Nachrowi Ramli, menuturkan bahwa partainya memiliki prosedur untuk menghadirkan ketua umum ke suatu persidangan. Nachrowi mengatakan bahwa prosedur itu harus dipenuhi.

"Ya dia kepingin sih boleh-boleh aja tapi kan kalau tingkat Pak SBY sebagai ketua umum hadir di sana, ada bukti dulu apa, biar kasih buktinya. Kalau hadir buat dengerin buat apa? Ini level ketua umum," kata Nachrowi di kantor DPP Partai Demokrat, Wisma Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 4 Februari 2017.

Awal mula isu penyadapan itu mengemuka ketika pengacara Ahok, Humphrey Djemat, mencecar Ma'ruf soal pertemuannya dengan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, di kantor PBNU pada Jumat, 7 Oktober 2016. Setelah itu, Humphrey menanyakan apakah sebelum pertemuan itu ada pembicaraan dengan SBY melalui telepon pada pukul 10.16 WIB, sebelum salat Jumat.

Humphrey yang juga Ketua Tim Kuasa Hukum Partai Persatuan Pembangunan kubu Djan Faridz itu menyatakan bahwa isi pembicaraan adalah soal, pertama, mengenai permintaan agar pertemuan dengan Agus-Sylvi agar diatur. Kedua, SBY meminta supaya segera dikeluarkan fatwa untuk masalah penistaan agama yang dilakukan Ahok.

Mendengar pertanyaan itu, Ma'ruf menjawab tidak ada. Humphrey pun menanyakan pertanyaan tersebut hingga dua kali dan kembali dijawab tidak ada oleh Ma'ruf.

"Majelis Hakim, sudah ditanya berulang kali katanya tidak ada. Untuk itu kami akan memberikan dukungannya. Ya Mejelis Hakim, andai kata kami sudah memberikan buktinya dan ternyata keterangannya ini masih tetap sama, maka kami ingin menyatakan saudara saksi ini telah memberikan keterangan palsu dan minta diproses sebagaimana mestinya," kata Humphrey.

Saat giliran berbicara, Ahok menyatakan Ma'ruf menutupi riwayat hidupnya yang pernah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres SBY. Dia pun berterima kasih pada Ma'ruf yang konsisten menyatakan tidak berbohong.

"Saudara saksi, saya berterima kasih. Ngotot di depan hakim bahwa saudara saksi tidak berbohong, akhirnya meralat ini. Banyak pernyataan tidak berbohong, kami akan proses secara hukum saudara saksi," kata Ahok.

Setelah itu, Ahok menyatakan bahwa pihaknya memiliki data yang sangat lengkap. Dia pun akan membuktikan satu per satu sehingga bisa membuat Ma'ruf dipermalukan.

Adanya ancaman terhadap Ma'ruf, dan juga penegasan adanya bukti, data, yang kuat atas pembicaraan Ma'ruf dengan SBY melalui telepon segera memancing respons publik secara luas. Mereka mengecam sikap Ahok dan tim pengacaranya. Isu adanya penyadapan pun menggelinding begitu cepat.

Situasi tersebut yang juga akhirnya membuat SBY menggelar konferensi pers. Ia menyatakan bahwa penyadapan atas dirinya adalah ilegal atau tidak sah, dan melanggar hukum.

SBY juga memohon pada Presiden Jokowi agar memberikan penjelasan mengenai penyadapan tersebut. Dari mana transkrip atau sadapan itu, siapa yang menyadap.

Alasannya, penyadapan tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Berdasarkan yang dia tahu, hanya institusi negara seperti Polri, BIN, atau KPK dalam konteks pemberantasan korupsi, yang berhak melakukannya.

Oleh karena itu, SBY meminta Polri bertindak. Sebab, penyadapan ilegal bukan merupakan delik aduan. (one)

Sumber : http://www.viva.co.id



Apakah terbukti dugaan penyadapan terhadap SBY ?

Apakah terbukti dugaan penyadapan terhadap SBY ?
Susilo Bambang Yudhoyono

Suara Rakyat, Jakarta - Tiga lembaga negara mengklarifikasi dugaan penyadapan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara sama-sama memastikan tak ada penyadapan.

Direktur Informasi Badan Inteligen Negara Wawan Purwanto malah menyebut dugaan itu bisa jadi sebatas asumsi jika tak dapat dibuktikan secara forensik.

Partai Demokrat menggalang dukungan hendak mengusulkan hak angket kepada pemerintahan menyusul pernyataan SBY. Pihak pendukung pemerintahan di DPR menyambut rencana hak angket Demokrat.

Ketua DPP PDI Perjuangan Trimedya Panjaitan menyebut pihaknya tak punya hak melarang usulan ini selain memastikan koalisi pendukung presiden solid.

Wakil Presiden Jusuf Kalla angkat bicara soal rencana hak angket DPR. Menurut Jusuf Kalla, hak angket DPR adalah perkara biasa sepanjang memenuhi syarat pengajuan.

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mengungkap penyadapannya usai sidang kedelapan Ahok dalam kasus dugaan penodaan agama Selasa 31 Januari lalu.

SBY mengibaratkan polemik ini dengan skandal Watergate Amerika Serikat di tahun 1972.(*)

Sumber :  http://www.tribunnews.com